selalu ada yang romantis…

… dari ngeblog.

Dahulu kala saat gue dan aris masih belum menikah, gue pertama kali memperhatikan kalau gila-ya-mas-aris-asik juga itu dari blognya dia. Gue suka sekali tulisan-tulisan di blog dia. Kalau sebelumnya baca tulisan dia cuma di majalah Trax dan itu kebanyakan soal film atau musik, maka di blognya lebih macam-macam. Ibaratnya gue makin bisa lihat inner beauty-nya dari blognya. Hahaha, sungguh pas tadi nulis kalimat sebelum ini gue geli sendiri. Minimal tahu kalau laki-laki seserius ini bisa cengeng juga kalau urusan bola.

Waktu jadian sedekade lalu (cie…) kami berdua jadi hobi banget ngeblog. Maklumlah akses internet belum semudah sekarang, pulsa masih mahal, jatuh cinta belum bisa disebarkan via sosmed… :p makanya blog kami pun makin aktif. Sayangnya gara-gara email gue di-hacked orang serta lupa password-nya dan sekaligus karena kami semakin sibuk, ngeblog pun jadi prioritas yang terus bergeser ke urutan buntut.

Tapi kemarin hari yang patut dirayakan karena setelah sekian lama membujuk aris kembali ngeblog di www.salmanaristo.com. Mari berdoa kalau dia lebih rajin ngeblog dari gue. Hehehe. Memang sering kali yang dia tulis adalah hasil obrolan kami, tapi tulisannya dia selalu asik untuk dibaca dan suatu saat dikunjungi kembali. Sudah sekian tahun gue rindu catatan personal dia. Kalau baca skenarionya sih udah biasa.

Salah satu tulisan di blog dia yang paling penting, romantis, dan sering jadi penyemangat orang yang mau nikah adalah hasil obrolannya dengan almarhum Papa (mertua gue) tentang jodoh. Papa sudah wafat pada Desember 2014 namun bijaknya dia terus ada lewat tulisan di blog aris itu. Pada saat itu, mungkin itu cuma catatan kecil aja untuk aris, tapi bijaknya Papa nggak berhenti di aris tapi juga ke orang-orang lain yang semoga nggak jadi galau pas mau nikah.

Mungkin itu yang selalu membuat blog (dan semua catatan harian dalam berbagai bentuk) selalu lekang waktu dan romantis. Beda dengan status twitter atau facebook yang singkat-singkat seperti tinggal sebentar di kamar hotel, maka tulisan panjang di blog itu seperti rumah: walau sudah pindah masih bisa terus dikenang atau dikunjungi. Kecuali kalau rumahnya digusur seperti nasib blog gue di multiply.com. Tapi sama aja kayak teman rumah masa kecil, pertemanan gue dengan para blogger “korban penggusuran” itu juga masih berlanjut sampai sekarang.

Jadi, selamat datang ke rumah baru, bi. Selamat menulis dengan secangkir kopi pahit. Semoga kenangan manisnya bisa terus abadi.

nb: kangen juga nulis beginian, hahaha.