“Muntah” Sebelum Nulis #1

Salah satu alasan gue membuat blog lagi, selain untuk alasan yang filosofis: refleksi diri (cieh!), adalah untuk menampung “muntahan kata”. Kadang-kadang otak gue ini mampet merangkai plot serta kata-kata sebelum menulis.  Jari-jari tangan juga kaku diajak mengetik panjang. Sehingga jadilah blog ini semacam ajang pemanasan, semacam foreplay, semacam appetizer, sebelum ke menu utama: menulis cerita panjang. Berhubung kali ini gue sedang aja proyek menulis yang agak panjang dan di medium cerita yang baru, maka harap maklum kalau ke depannya seringkali isi blog ini berisi “muntahan” yang tak penting.

Sebelumnya gue biasa “muntah” di twitter. Tapi keasikan muntah dalam 140 karakter bikin gue jadi lebih nggak produktif. Kalau nulis panjang itu bagai lari marathon, maka kebanyakan ngetwit itu bagai jogging yang kebanyakan jalan. Bagi gue, twitter bukan latihan yang cocok biar panas untuk nulis panjang. Oke, kecuali Aris. Kalau Aris, “muntahan”-nya memang lebih serius, dia candu ber-@fiksimini. “Muntahan”nya ini sudah mencapai ribuan tweet fiksimini dan bahkan sudah jadi sebuah komik yang diterbitkan: PoliTweet. Tapi memang sih taraf produktif dia sudah sampai ke level nggak sopan. Gue juga ragu kalau dia masuk ke dalam kategori manusia normal dalam urusan produktif ini, hehehe, jadi kita nggak perlu minder berjamaah :p

Yak, sudah dulu muntahnya. Sekarang waktunya kembali bekerja. Besok deadline dan tatapan editor gue serta asistennya saat nagih itu bikin nggak enak hati -___-” Gue yakin di kehidupan sebelumnya mereka adalah interogator... atau bisa juga mandor. Hehehe.

PS:

Ngomong-ngomong soal lari, tadi pagi gue dan Teguh hidup sehat banget. Waktu ke Bali kemarin untuk world premiere Jakarta Hati (akan ditulis di post terpisah, ehm, kalau rajin :p), gue dikasih tahu Agni Pratistha spot lari pagi yang asik: di kebun binatang Ragunan. Yep, ternyata lo bisa masuk untuk olah raga sebelum waktu bukanya pukul 09:00. Maka langsung semangatlah gue kembali lari. Untung si Teguh juga mau ikutan lari tanpa harus diiming-imingi akan ketemu Agni di sana. Hari ini gue bangun pukul 04:45, (nggak sadar) ngebut sangking kosongnya Tol JORR, jemput Teguh, lalu sampai di Kebun Binatang Ragunan pas pukul 06:00.

Enak banget di sana: murah, aman, masih sepi, adem dan oversupply oksigen karena banyak pohon. Di sana lari-lari kecil sambil kebanyakan jalan karena kami anak jompo : )) Selain itu jadi salah fokus keliling lihat binatang. Hehe. Binatangnya cuma beberapa yang kelihatan. Ada yang sudah mau menyapa: gajah; Ada yang malu-malu: jerapah; Ada yang masih dikandangin: orang utan; Ada yang nggak ketemu karena entah-jauh-banget-atau-emang-cuma-mitos-kalau-binatang-itu-ada-di-Ragunan: Harimau Putih.

Anyway, we had fun dan sepakat mau rutin lari di sana. Target kami minggu depan adalah ketemu Harimau Putih dan bakar lebih banyak kalori! : D

*lah ini kenapa jadi nulis lagi sih? -__-“*

 Disclaimer: perut gede itu bukan buncit! Itu akibat naruh semua barang ke dalam kantung jaket :p

Quote of the day dari Teguh: Mbak, gajahnya nggak bisa lompat keluar kan? : ))

Akhirnya bisa ngelihat buah (?) Randu secara close up and personal! #halah 

Sebelum keluar dari pintu utara Kebun Binatang Ragunan dilepas sama pelikan …

… dan dilepas sama ibu-ibu pengajian yang mau shooting acara agama sama Trans 7. Btw, shooting siang hari di Ragunan dan  pakai seragam pengajian memang cara yang efektif biar takut neraka. Panas, man! Hehehe.

Karena Ini Totok, Bukan Ketok

Dear mbak yang kemarin sore memijat dan menotok saya,

Saya selalu menghargai orang-orang yang punya passion dengan pekerjaannya. Orang-orang yang melakukan pekerjaannya dengan cinta, semangat dan keseriusan tinggi. Salah satunya adalah mbak. Jadi, karena saya tak sempat bicara dengan mbak saya menulis ini. Walau kalau dipikir-pikir kemungkinannya kecil mbak baca ini, tapi tak apalah saya tulis saja daripada dipendam jadi masuk angin.

Mbak, jangan kecewa kalau kemarin sore mbak gagal membuat aura saya jadi lebih cerah. Seumur-umur saya totok aura baru sekali ini ada mbak totok aura yang beneran kecewa lihat aura saya tak cerah. Awalnya saya mau ketawa, tapi melihat keseriusan muka mbak, saya tahu mbak nggak bercanda.

Saya memang nggak percaya sama konsep totok aura. Lalu kenapa saya dulu mencoba totok aura? Karena pada dasarnya ditotok adalah impian masa kecil saya. Semua gara-gara cerita kung fu di RCTI waktu saya SD. Kemudian  mulailah main totok-totokan jadi happening. Main kejar-kejaran, siapa yang ditotok nggak bisa gerak. Tentu, saya yang paling sering kalah.

Walaupun saya nggak percaya totok aura, tapi saya menikmatinya. Saya memang pecinta tekanan. Kalau pijat sukanya ditekan yang keras dan shiatsu itu  pijat favorit saya. Jadi aura bersinar itu bonus kok mbak. No pressure!

Dan iya mbak. Saya memang banyak masalah, atau mungkin karena sebenarnya saya sedikit ngintip waktu mbak suruh saya merem pas menotok. Oya, mbak bener kok, saya sedang banyak pikiran. Satu-satunya yang saya nggak terlalu suka dari berbagai jenis tekanan adalah tekanan hidup.

Jadi mbak jangan sedih karena aura saya tak bercahaya. Nggak perlu minta maaf karena itu bukan kegagalan mbak. Lagi pula abu-abu atau hitam memang warna saya. Mbak boleh cek ke online shop langganan saya kalau tak percaya.

Bener ya mbak, jangan sedih. Karena ini totok, fungsinya bikin rileks bukan bikin masalah hilang. Ingat ya mbak, jangan kecewa, ini totok, dan mbak tak sedang kerja di bengkel ketok magic yang bisa sekali ketok bikin mobil mulus kembali.

Tetaplah semangat kerja mbak. Mungkin lain waktu kita bersua, totokan mbak akan bikin aura saya secerah yang mbak harapkan.

Salam hangat,

Pelanggan sore kemarin di Gardenia Bintaro

yang rewel mau shiatsu tapi dapatnya hot stone dan totok.

Meredith Grey

Meredith Grey

Dia bukan karakter serial televisi yang mudah untuk dicintai dari awal. Cantik banget enggak. Heroik juga enggak. Punya banyak masalah iya. Solutif kadang-kadang.

But I totally really can relate with her since the first episode. I don’t care that so many people hate her. Some people called her: “the pointless character on the show”. But I like this girl. Damn it, I love her. I grow with this Grey. Sometimes, I think, she is me in a nutshell.

Soal Cinta dan Memori Tubuh

Disclaimer: Sebenarnya gue tak berencana menulis ini. Tapi tweet semalam soal stuck ini bikin beberapa teman yang nanya. Oya, dalam postingan ini gue akan banyak menggunakan kata “cinta”. Segeli-gelinya gue dengan kata itu, rasanya tak ada kata lain yang lebih tepat. “Sayang pertama” rasanya tak setepat “cinta pertama”. So, bear with me people! :p

Soal stuck dengan mantan pacar, gue mungkin bisa jadi salah satu contoh terbaik. Jatuh cinta sama teman lo yang sama-sama geek, di”tembak” dengan disuruh nyari huruf-huruf yang membentuk kalimat sayang di buku (horor!) “Bag of Bones”, cocok banget dalam hal apa saja, pacaran 10 bulan waktu SMA kelas 2, diputusin di Bromo waktu di perjalanan dharma wisata karena gue cemburuan, kemudian masuk ke hubungan pertemanan yang diselingi dengan “jatah mantan” di antaranya.

Ya, gue salah satu contoh yang terbaik. Untuk gue, waktu stuck dulu, dia “blue print” cowok yang gue mau. Untuk melupakan dia, gue pacaran dengan sporadis, terobsesi dengan cowok Scorpio, bertahun-tahun setengah mati menahan untuk mengontak dia yang nomernya selalu gue ingat, dia sering muncul dalam mimpi dan gue membuat satu film (bersama sahabat gue yang stuck juga dengan mantan pacarnya) berjudul: “Foto, Kotak dan Jendela”.

Kemudian, beberapa minggu lalu, dia bilang kalau dia akan menikah. Menikah dengan pacarnya setelah gue. Hehe.

Gue ikut senang. Stuck gue sudah lewat, dan, bagaimanapun kompleksnya hubungan kami, dia adalah sahabat yang selalu bisa diandalkan. Sahabat akan senang kalau sahabatnya senang kan? Dan dari kabar itu muncul satu pertanyaan: Kenapa gue bisa stuck sama dia? Apa yang membuat kenangan bersama seseorang bisa menguasai selama bertahun-tahun?

***

Pertanyaan gue terjawab kemarin sore. Gue sedang meeting development cerita dengan dengan seorang sahabat sekaligus editor dan entah mengapa pembicaraan kami sampai di pertanyaan yang sama.

Sahabat gue ini kemudian mengutip dialog film “Vanilla Sky”:

“Don’t you know that when you sleep with someone, your body makes a promise whether you do or not.”

Kurang lebih jika dihubungkan dengan pertanyaan ini adalah: stuck bukan masalah hati, tapi tentang tubuh kita yang mengingat.

Biologis banget? Memang. Hey, jangankan tubuh. Penelitian Universitas Sidney membuktikan sel jamur physarum polycephalum yang berbentuk lendir, punya memori spasial. Itu lendir, dan kita pacaran enggak cuma dengan lendir saja dong? :p

Gue langsung ingat kalau gue pernah sekilas menulis soal cinta dan naik sepeda. Bagi gue, jatuh cinta itu skill hidup. Percaya dan peduli orang lain dengan tulus itu adalah skill hidup. Sekali bisa jatuh cinta, seperti sekali kita bisa naik sepeda, otak keseimbangan kita tak akan lupa.

Dalam kasus stuck ini, pacaran pertama tak berarti cinta pertama. Cinta pertama adalah di saat tubuh dan emosi kita siap. Kita benar-benar merasakan manisnya. Kita benar-benar merasakan pahitnya. Kita tak akan ingat detil kita belajar naik sepeda, atau belajar baca, tapi kita akan ingat moment di saat kita benar-benar bisa.

Bagi kasus gue, gue tak ingat dua pacar sebelum dia karena itu adalah saat gue belajar. Tapi gue ingat terus saat gue pacaran dengan dia. Itu mengapa tubuh gue mengingat dia terus.

***

Tapi, untungnya, tubuh juga tumbuh.

Tubuh terluka, tubuh menyembuhkan. Tubuh mencari, tubuh menemukan. Dan untungnya keberanian (ehm, atau kenekatan) gue untuk jatuh cinta tak secemen keberanian gue untuk naik sepeda yang lebih tinggi. Pada akhir segala drama stuck itu, gue bisa menarik napas lega dan merasa baik-baik saja.

Now, I’ve found my “home”… and I hope he, my first love, will too.

Congrats for the engagement! : )