– with adipati, Lucia, Alexander, Alderina 👸🏻, Putri, Shirley, Jacky, W., Nazira C. Noer, al-zaidy, Eros, Pritagita, Teo, Dimitri, Fitria, Faizal Reza, Hanan, Meiske, De Yayu, Yeany, Sigit, and Salman

View on Path

final draft di draft 9

Terima kasih duo produser: Eddy & Dede, bung sutradara: Edwin, dan geng Wahana Penulis untuk proses development skenario yang intens, menyenangkan, dan seperti loncat indah: penuh twist. 😘😋 Selamat shooting semuanyaa ❤❤ – with Hanan, Meiske, De Yayu, Arief, al-zaidy, Diva, @ameoktavia, and edwin

View on Path

Terimakasih teman-teman MP Pro dan Love Pink yg beri kepercayaan, kesempatan, serta kesabarannya untuk saya dan tim Wahana Penulis membuat skenario #PinkyPromise. Begitu juga untuk Mas Guntur yg terus bisa menantang kami. Proses development karakter dan skenarionya menyenangkan. Perlahan cerita dan karakternya bisa terus tumbuh menjadi personal bagi kami. Semoga lancar terus shooting hingga sampai ke hati penonton. 😘😘🙏🙏 – with Diva, Sumanggar, Fitria, Wailan , Tuty, Sari, De Yayu, C, muti, Dede, robby, Samantha, Guntur, Ray, david, Hanan, penny, arief ash shiddiq, and @ameoktavia

View on Path

Hari ini salah satu hari yang spesial dalam hidup saya, Amelya, dan Fitri. Bukan hanya karena launching buku biografi pertama yang saya tulis, tentang Eyang BJ Habibie yang kami sangat sayangi, buku ini juga terbitan pertama PlotPoint setelah kami mengalihkan fokus dari penerbitan buku menjadi pengembang naskah.

Oke, lebih tepatnya, saat itu kami bangkrut dan ada dua pilihan. Pertama, tutup. Kedua, menyelamatkan perusahaan dengan cara menerbitkan banyak buku yang tak sesuai dengan prinsip kami. Kami memilih yang pertama dan itu merupakan salah satu keputusan terberat yang pernah kami ambil. Kami merasa mengecewakan banyak orang: pegawai, penulis, rekan bisnis, dll.

Tapi kami masih penasaran sama dunia buku ini. Kami cinta buku/konten bagus yang bisa dinikmati banyak orang. Kami tergila-gila pada desain cover buku yang bagus. Kami memutuskan lanjut dengan cara yang berbeda. Minimal kalau jatuh ya coba lagi. Memang klasik banget semangatnya: kalau cinta ya usaha, kalau tak gagal ya tak belajar.

Buku ini bagai (dan semoga) “Jaws” untuk Steven Spielberg 😉 Adaaaa aja cobaannya. Drama banget lah. Tak hanya di satu titik saja saya dan Amelya frustasi, untungnya ada Fitri yang selalu bisa menenangkan. Buku ini yang selalu mengingatkan lagi kalau akhirnya yang selalu ada, ya, keluarga dan para sahabat kami. Orang-orang yang percaya sama kami. Mereka yang bisa kami mintai tolong dan selalu bantu semaksimalnya. Kepada mereka kami berterimakasih. Kepada mereka buku ini kami persembahkan.

Love,
Ame, Fitri, & Gina – with Patra, De Yayu, bagus, anggia kharisma, Angga Sasongko, Arief, Diva, Hafidzha, Riesna, Halluna, teguh, Prasajadi, ika, Armadina, Hanung, Rino, Fitria, Diela, Veronica, Ditta Sekar, Faozanrizal, Sigit, Inga, Christie, @ameoktavia, and @salmanaristo

View on Path

selalu ada yang romantis…

… dari ngeblog.

Dahulu kala saat gue dan aris masih belum menikah, gue pertama kali memperhatikan kalau gila-ya-mas-aris-asik juga itu dari blognya dia. Gue suka sekali tulisan-tulisan di blog dia. Kalau sebelumnya baca tulisan dia cuma di majalah Trax dan itu kebanyakan soal film atau musik, maka di blognya lebih macam-macam. Ibaratnya gue makin bisa lihat inner beauty-nya dari blognya. Hahaha, sungguh pas tadi nulis kalimat sebelum ini gue geli sendiri. Minimal tahu kalau laki-laki seserius ini bisa cengeng juga kalau urusan bola.

Waktu jadian sedekade lalu (cie…) kami berdua jadi hobi banget ngeblog. Maklumlah akses internet belum semudah sekarang, pulsa masih mahal, jatuh cinta belum bisa disebarkan via sosmed… :p makanya blog kami pun makin aktif. Sayangnya gara-gara email gue di-hacked orang serta lupa password-nya dan sekaligus karena kami semakin sibuk, ngeblog pun jadi prioritas yang terus bergeser ke urutan buntut.

Tapi kemarin hari yang patut dirayakan karena setelah sekian lama membujuk aris kembali ngeblog di www.salmanaristo.com. Mari berdoa kalau dia lebih rajin ngeblog dari gue. Hehehe. Memang sering kali yang dia tulis adalah hasil obrolan kami, tapi tulisannya dia selalu asik untuk dibaca dan suatu saat dikunjungi kembali. Sudah sekian tahun gue rindu catatan personal dia. Kalau baca skenarionya sih udah biasa.

Salah satu tulisan di blog dia yang paling penting, romantis, dan sering jadi penyemangat orang yang mau nikah adalah hasil obrolannya dengan almarhum Papa (mertua gue) tentang jodoh. Papa sudah wafat pada Desember 2014 namun bijaknya dia terus ada lewat tulisan di blog aris itu. Pada saat itu, mungkin itu cuma catatan kecil aja untuk aris, tapi bijaknya Papa nggak berhenti di aris tapi juga ke orang-orang lain yang semoga nggak jadi galau pas mau nikah.

Mungkin itu yang selalu membuat blog (dan semua catatan harian dalam berbagai bentuk) selalu lekang waktu dan romantis. Beda dengan status twitter atau facebook yang singkat-singkat seperti tinggal sebentar di kamar hotel, maka tulisan panjang di blog itu seperti rumah: walau sudah pindah masih bisa terus dikenang atau dikunjungi. Kecuali kalau rumahnya digusur seperti nasib blog gue di multiply.com. Tapi sama aja kayak teman rumah masa kecil, pertemanan gue dengan para blogger “korban penggusuran” itu juga masih berlanjut sampai sekarang.

Jadi, selamat datang ke rumah baru, bi. Selamat menulis dengan secangkir kopi pahit. Semoga kenangan manisnya bisa terus abadi.

nb: kangen juga nulis beginian, hahaha.

Happy #9 anniversary, @salmanaristo

‘Quoting’ our favorite song:
May God bless and keep us always. May our wishes all come true. May we have a strong foundation, when the winds of changes shift. May our hearts always be joyful and may our song always be sung.

But I hope we won’t stay forever young, because growing old with you is the best part of my life 😊❤️

i luuurrrrffff you

View on Path

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin, malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin.

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang.

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

Chairil Anwar, 1949 – at TPU Karet Bivak

View on Path