Gravity: Gravitasi dan Hal Lain Yang Menjagamu Menjadi Ibu

Image

Minggu lalu saya menonton film ‘Gravity’, and I love it. 

Ceritanya sendiri simpel, tentang seorang astronot perempuan yang tak punya apa-apa lagi di bumi namun harus bertahan hidup sendirian dan mau kembali ke bumi. About a mother who wants to come home to the mother earth. Tapi maknanya dalam sekali, sebuah optimisme terhadap kemanusiaan. Saya tak langsung terpikir ini waktu selesai menontonnya, maklumlah akibat terpana dari segi teknisnya. Saya menontonnya di IMAX, pada baris J, sehingga layar terlihat besar sekali dan seperti berasa di tengah luar angkasa. Tapi kalau saya pikir-pikir lebih dalam lagi, film ini jadi lebih ‘dalam’ maknanya jika kamu menontonnya saat sudah menjadi ibu. The movie stays with you.

No one, even your husband, know how it really feels to be a mom, surviving motherhood, or worse… how to survive from losing a child. And yet, despite all the bad things, you must be back on your feet and trust yourself as a mother.

Menjadi ibu memang pengalaman personal yang sangat rumit karena tak mudah berbagi kehidupan dengan manusia lain dalam tubuhmu. Saat ada seorang janin manusia dalam rahim perempuan, maka detik itu juga dia jadi seorang ibu, dan itu perjalanan yang tak bisa dihentikan. Bahkan ketika seorang ibu keguguran, kehilangan anaknya, mengaborsi janinnya, atau membuang bayinya, dia selamanya tetap pernah menjadi seorang ibu. Punya insting keibuan lain lagi ya, tapi pernah jadi ibu… itu fakta yang tak bisa dibatalkan.

Menjadi ibu menyadarkan saya betapa rapuhnya hidup. Seperti gravitasi di bumi, menjadi ibu menyadarkan keterbatasan kita sebagai manusia. Seorang ibu harus selalu siap sedia bertahan, memberi yang terbaik untuk anak-anaknya, memberikan harapan seluas-luasnya kepada mereka… Sementara sudah tahu kalau semua ini ada akhirnya. Karena pada suatu hari yang buruk, kamu akan kehilangan anakmu. Mereka akan pergi atau kamu yang akan pergi meninggalkan mereka. 

Menjadi ibu adalah perjalanan menuju ikhlas. How to let go, kalau mau mengambil dari film ‘Gravity’. Suatu hari seorang astronot melepaskan diri dari pengikatnya dari kapal luar angkasanya untuk menyelamatkan diri, namun kemudian dia terombang ambing di luar angkasa yang tak dia kenal sama sekali. Suatu hari di hari kelahiran kita, kita terlepas dari tali pusar, satu-satunya ikatan fisik yang menghubungkan anak dengan ibunya. Pada hari kelahirannya itu pula seorang anak sebenarnya sudah sendiri di dunia yang sama sekali baru.

Beberapa anak akan menyerah sebelum akhir takdirnya, beberapa anak akan bertahan hingga akhir takdirnya. Dan pada akhirnya, yang bisa membuat manusia bertahan adalah ketegarannya untuk merelakan dan terus berjalan di muka bumi.

– untuk ibu, biru dan bung.

 

GRAVITY (2013)

Director: Alfonso Cuarón

Writers: Alfonso Cuarón, Jonás Cuarón

Stars: Sandra Bullock, George Clooney, Ed Harris

Tiga Film Untuk Selamanya

Ada tiga film yang selalu nempel di kepala gue. Macam iklan yang pasti ada sebelum nonton film di bioskop, memori gue akan tiga film ini otomatis selalu muncul tiap gue sedang menghadapi masalah yang berkaitan.

Selain itu, tiga film ini yang terus mengingatkan gue kenapa gue mau bercerita dan berkarya. Gue sempat ngobrol sama Teguh soal seni. Dia bilang, karya itu baru dibilang seni kalau bisa kasih kesadaran baru (new conscious) ke penikmatnya.

Nah, ketiga film ini selalu berhasil kasih kesadaran baru setiap gue ingat. Benar-benar karya yang “tumbuh” dalam diri gue. Setiap gue ingat film ini, gue selalu berterimakasih dalam hati kepada para filmmaker-nya karena sudah bikin film ini.

Doa gue selanjutnya, semoga gue bisa bikin film seperti tiga film ini: film yang tumbuh di hidup mereka yang nonton. Rasanya ini yang jauh lebih berat dari film lo laku atau film lo masuk dan menang di festival film. Seperti kata Barbara Streisand, yang diingat bukan film yang menang di Oscar tahun itu… Tapi film yang paling berkesan di hidup lo. Mungkin doa gue kurang valid ya, maklum film gue belum ada yang masuk/menang ke festival bergengsi. Hehehe.

Film pertama adalah Tokyo Story (Yasujiro Ozu, 1953), film hitam putih ini muncul setiap gue kangen orang tua dan mertua gue. Kangen dan merasa bersalah karena betapa makin sibuknya waktu gue untuk bertemu mereka. Pertama kali nonton ini waktu tahun 2005, gue (dipaksa) pinjem DVD-nya sama Aris yang waktu itu baru jadi pacar. Film PDKT-nya serius banget ya? Haha.

 

Ini adalah film tentang hidup yang tumbuh dan kesendirian adalah salah satu efek logisnya. Ceritanya tentang pasangan tua yang datang ke Tokyo untuk bertemu putra mereka. Tapi, sampai di sana, anak dan menantu mereka terlalu sibuk untuk menemani mereka. Mereka bukan anak durhaka yang jahat, tapi ya itu dia masalahnya: waktu. Akhirnya yang menemani mereka adalah menantu perempuan mereka yang sudah ditinggal mati suaminya.

Endingnya? Ya Tuhan… Sedih banget. Bukan sedih murahan, tapi sedih yang membuat lubang di hati lo karena diam-diam lo tahu suatu saat bisa berlaku yang sama kepada kedua orang tua lo. Lubang itu lo isi dengan sumpah untuk tidak jadi begitu.

Tapi hidup dan waktu memang kejam. Tiba-tiba 24 jam jadi tak cukup, 7 hari jadi kurang, waktu untuk mereka yang kita cintai sering mau tak mau tersisih. Kita terus terpaksa sibuk sedangkan lubang di hati terus menganga minta ditambal. Well, isn’t life disappointing?

Film kedua adalah film yang selalu muncul saat gue gelisah soal hidup dan karir. Film ini muncul  setiap merasa frustasi karena merasa apa yang telah dikerjakan rasanya tak pernah cukup. Pasti aja ada salahnya, ada gagalnya. Judul filmnya: Achilles and the Tortoise (Takeshi Kitano, 2008).

 

Gue, Aris, Ame dan Fitri nonton film ini di Jiffest 2009. Film ini bukan film yang mudah untuk disuka. Selesai nonton si Ame dan Fitri bahkan langsung bilang mereka benci banget film ini dan memang segitu depresifnya film ini. Namun, film ini seperti gambaran hidup kalau sedang frustasi. Tentu, semoga, kehidupan nyata tak sedramatis ini. Ceritanya terinpirasi dari kisah pertandingan lari Achilles dan kura-kura (Zeno’s Paradoxes). Intinya, secepat apa si Achilles berlari tetap saja si kura-kura akan terus ada di depannya.

Begitu juga kira-kira kisah si tokoh utama film ini, Machisu, dia pelukis yang terus berusaha untuk mengejar sukses. Dia berbakat sekali, tapi selalu dapat hambatan sejak dia kecil untuk mendapatkan kesuksesan itu. Sekeras apapun dia berusaha, selalu saja dia selalu tak bisa mendapatkannya dan sepanjang perjalanannya itu, dia didukung dengan setia oleh istrinya.

Dua orang ini keras kepala banget. Semakin mereka kerasa kepala semakin kita sebagai penonton frustasi. Di akhir film, kita seperti ditantang: Apakah semuanya sepadan?

Pada saat film ini selesai, di situlah dia mulai tumbuh dalam diri gue. Setiap gue (dan/atau Aris) menghadapi tantangan dan kekecewaan dalam karir gue langsung ingat Machisu dan istrinya. Kadang gue Machisu, kadang gue istrinya. Kadang gue merasa marah dan merasa semuanya tak sepadan. Tapi tetap saja selalu cinta dan kekeras kepalaan yang menang. Ya, bahkan untuk Ame dan Fitri yang sekarang mulai suka film itu.

Film ketiga berjudul Badut-Badut Kota (Ucik Supra, 1993). Gue menontonnya sekitar bulan Oktober 2012 saat diputar oleh RuangRupa dan Kineforum. Gue menonton ini setelah sehari sebelumnya gue berdebat dengan mas Ardi soal kemiskinan di film Indonesia. Gue beruntung banget dia nyuruh gue nonton film ini. Lalu kapan gue ingat film ini? Setiap saat gue cekak. Hehehe. Awalnya gue nggak punya film-untuk-moment-cekak gue. Tapi film ini mengubah segalanya, bukan cuma soal menghadapi hidup saat kere tapi tentang untuk apa gue kerja.

Film ini berkisah tentang Dedi dan Menul, pasangan yang nikah muda dengan satu anak. Mereka hidupnya nggak ngepas banget, pas butuh, eh, pas nggak ada. Kenapa? Karena Dedi putus sekolah dan kerja jadi badut Dufan. Menul jadi ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Ingin buka usaha tapi tak punya modal. Yah, kurang lebih mereka adalah gambaran kehidupan sehari-hari kelas menengah ke bawah Indonesia.

Namun, mereka hidup dengan sangat optimis sekali. Chemistry Dedi Yusuf dan Ayu Azhari langsung mengalahkan chemistry Paul Reiser dan Helen Hunt di serial televisi Mad About You.  Walau saat ibu kontrakan mengusir mereka, walau saat anak mereka sakit, mereka tetap bergandengan tangan dan tersenyum menguatkan. Cheesy? Sama sekali tidak. Rasanya kemiskinan belum pernah digambarkan seromantis, seoptimis dan sekaligus punya solusi seperti ini dalam film Indonesia.

Selesai menonton film gue justru nggak mau bikin film sekeren ini seperti reaksi biasa sehabis nonton film keren. Film ini berhasil mendorong diri gue lebih lagi, menantang gue untuk bertanya ke diri sendiri: Sebagai bagian dari masyarakat, apa peran nyata lo untuk menolong orang lain?

Karena Dedi dan Menul bukan ditolong oleh film. Satu-satunya unsur dari film yang menolong mereka adalah tetangga mereka, Chaerul, yang hidup ngepas walau  sudah menang FFI. Yeah, ini sindiran banget! Mereka semua ditolong oleh orang kaya yang mau percaya dan kasih modal mereka untuk usaha. Ya, usaha. Jadi entrepreneur. Film ini melampaui jamannya, bandingkan dengan saat ini, saat yang dijual di buku, televisi sampai layar lebar adalah kalimat penuh bunga dari motivator.

Gue rasa ini inti dari film ini, selain untuk bikin senyum dan optimis di kala cekak, bagaimana kita lebih kuat untuk menolong diri sendiri dan orang lain. Bukan sekedar sukses berarti kaya sendirian.

Ada satu hal lagi yang bikin gue langsung nyambung dengan film ini: cara Dedi mesra, ngajak Menul bercanda dan menghibur keluarganya saat susah sepanjang film langsung mengingatkan gue ke Aris. Walaupun gue nggak nonton ini bareng dia. Mereka adalah suami sekaligus ayah yang bertanggung jawab, optimis dan sangat sayang keluarga. Menul dan gue adalah perempuan-perempuan yang sangat beruntung.

p.s:

Catatan kecil ini untuk kamu yang selalu mengingatkan aku akan keajaiban hidup dan film. I luurrff you, bi!